Jumat siang (22/03) di selasar barat KPFT UGM,
WRC (Waste Refinery Center)
bekerja sama dengan Gama Cendekia dan Cendekia Teknik UGM mengadakan rangkaian acara. WRC merupakan komunitas yang
dikepalai
oleh Ir. Siti
Syamsiah, Ph. D., dosen Teknik Kimia UGM. Komunitas
ini memfokuskan diri untuk bergerak pada bidang
pengelolaan sampah. Perintisan gerakan ini terinspirasi oleh aktivitas pengelolaan sampah
yang telah dilaksanakan di Swedia. Dengan tujuan mencapai kualitas pegelolaan sampah yang sama baiknya dengan di Swedia,
WRC pun
dikembangkan di UGM.
Mengusung tema ‘Sampah Tanggung Jawab Siapa?’, lomba poster dan talkshow pun digelar. Pembicara
yang diundang sangat berkapasitas
di bidang yang bersangkutan. Adalah Kepala Kementrian Lingkungan Hidup Eko
Region Jawa dan akademisi UGM, Bapak Derajad Sulistyo yang hadir sebagai
pembicara hari ini.
Diawali dengan pameran Poster Sampah pada
pukul 10.00,
acara ini pun dimulai. Pengunjung diberikan kesempatan sebanyak dua suara untuk memilih poster favorit. Dilanjutkan
dengan penampilan akustik perkusi dengan
alat musik yang terbuat dari sampah oleh BSO Satu Bumi. Talkshow yang dimoderatori oleh Didik
Hari Purwanto, mahasiswa Teknik Fisika UGM 2009, dimulai dengan statement pembuka dari Bapak Derajad. “Jika yang dibicarakan
adalah sampah, sebenarnya memang sangat tidak menarik. Bahkan tidak menutup
kemungkinan dalam seminggu ke depan isu ini akan mulai menghilang bahkan
dilupakan oleh para mahasiswa. Inti dari semuanya adalah tentang kesadaran. Kesadaran
bahwa sampah itu adalah masalah skala nasional. Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya
adalah pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. Hal ini berlanjut dengan
meningkatnya sampah-sampah yang dihasilkan. Dalam hal ini sebenarnya pemerintah
juga telah turun tangan, yaitu dengan adanya regulasi terkait pengelolaan
sampah yang tercantum dalam UU No 18 Tahun 2008.” begitu
pungkas beliau saat membuka talkshow.
“Pengelolaan sampah memang bukan hal yang
mudah. Diperlukan konsistensi yang tinggi. Proses pengelolaan sampah sebenarnya
tidaklah rumit, yaitu pengurangan dan pengelolaan itu sendiri. Pengurangan yang
dimaksud contohnya adalah minimalisasi penggunaan bahan baku industri yang
sulit diolah kembali, seperti plastik. Sedangkan pengelolaan yang dimaksud
adalah pemilahan sampah ke dalam jenis organik, anorganik, plastik, kaca, dan
sampah lain-lain. Dengan adanya pemilahan seperti ini, maka volume sampah yang
tidak bisa diolah kembali akan berkurang dan volume sampah di TPA akan menurun.
Hal-hal seperti itu sangat penting. Terlebih lagi terkait dengan akan
diadakannya penutupan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) pada tahun 2013 ini,” ungkap Pak Badri. “Perlu
digarisbawahi bahwa sampah tidaklah sama dengan limbah. Jenis sampah bisa dikategorikan menjadi dua
kelompok, yaitu sampah rumah tangga dan sampah spesifik. Sampah spesifik inilah
yang paling beresiko terhadap lingkungan jika tidak diolah dengan baik.” tambahnya.
Bukan rahasia lagi jika di kalangan masyarakat
kini terjadi ‘tuduh-menuduh’ terkait sampah. Siapa yang seharusnya bertanggungjawab terhadap sampah
ini? Sampah adalah tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Pemerintah telah berupaya mengontrol sampah melalui regulasi. Begitupun dengan perusahaan-perusahaan,
kini mereka tengah berlomba-lomba mengurangi pemakaian bahan baku yang sulit
diolah. Masyarakat pun seharusnya demikian. ”Apapun posisi kita,
turutlah berperan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan,” jelas Pak Badri.
Kembali
lagi, inti dari semua ini adalah bagaimana cara membangun kesadaran?
Kalau masalah sadar tidak sadar, semua orang
pasti sebenarnya sadar, permasalahannya adalah sejauh mana mereka mampu
disiplin dalam pelaksanaannya. Membentuk
karakter yang peduli lingkungan harus dilakukan sejak dini. Dimulai dengan
menanamkan hal-hal sederhana kepada anak-anak kita terkait dengan lingkungan hidup. Dengan
demikian, proses untuk menjadikan sampah sebagai sesuatu yang berkelanjutan
telah dimulai.
Bagaimana caranya untuk menyinergiskan ketiga pihak
tadi untuk peduli sampah?
“Inilah permasalahannya, tantangan kita adalah
membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Tidak jarang di kalangan masyarakat
timbul kelompok-kelompok antara pemahaman dengan kesadaran tentang lingkungan.
Timbul persepsi bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin tinggi
kesadarannya tentang lingkungan. Namun yang terjadi sekarang sudah terbalik.Ubah
paradigma kita terhadap sampah. Dari mana sampah berasal? Dimulai dari hal tersebut,
kita bisa mengubah perilaku kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Pak Derajad.
“Sederhana saja, sampah berasal dari kita,
oleh karena itu kita turut bertanggungjawab dalam pengelolaannya, jika tidak ingin ada bencana yang
diakibatkan oleh sampah. Konsisten untuk terus menangani sampah, itu yang
diperlukan.” ucap Pak Badri sebagai
konklusi diskusi hari ini.
| 'Buang', juara pertama lomba poster oleh Robbani Alfan |
Setelah sajian penampilan
musikalisasi puisi yang bertemakan sampah dari panitia dan BSO Satu Bumi, tibalah saat yang ditunggu
yaitu pengumuman pemenang lomba poster. Dari 38 peserta lomba poster, terpilihlah empat
pemenang. Nominasi poster favorit diraih oleh Dzikrima Luthfi dengan tema 3
cara sederhana mengatasi permasalahan sampah. Juara ke-3 , bertemakan Recycle, make a something new, diraih
oleh Hardy Nurvianto. Sementara
itu, juara ke-2 diraih oleh Galih Putra Laksana yang
dengan kreatifnya menganalogikan bumi sebagai sebuah tong sampah raksasa. Menyandang gelar juara
pertama, Robbani
Alfan, berkaryakan sebuah poster minimalis sarat makna dengan judul ‘Buang’.
Penampilan akustik kembali dari BSO Satu Bumi menjadi
penutup acara hari ini. Harapan
yang tergantung ke depan adalah apa yang didiskusikan hari ini bukanlah
tersimpan menjadi wacana belaka, tetapi mampu ditransformasikan
dalam wujud aksi nyata yang mampu mengubah Indonesia. (alif-st)






2 komentar:
Saya usul, kategori postingannya dimasukin ke "informasi" aja. :)
Siap, makasih feedback-nya... :)
Posting Komentar