Adalah benar ketika ada seseorang yang mengatakan: sebetulnya, tidaklah salah-salah amat jika musuh-musuh dakwah tak bosan-bosannya terus menyerang para pegiat dakwah. Karena, tabi’at seorang musuh itu adalah mengalahkan siapa saja yang menjadi lawannya. Maka, sebetulnya yang layak disalahkan itu–jika kita ingin terus-terusan mencari siapa yang salah–ya para pegiat dakwahnya sendiri. Bangunan dakwah yang mereka susun sedemikian sempurna itu ternyata tidaklah runtuh karena dibombardir oleh musuh-musuh mereka, melainkan karena tingkah laku para pegiatnya sendiri. Allaahu a’lam.
Maka, sebelum para aktivis tergopoh-gopoh memvonis ‘salah’ terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh, alangkah baiknya jika para aktivis berpikir jernih terlebih dahulu. Sembari bertanya–dengan penuh ketulusan–pada dirinya sendiri. Apa benar hal itu adalah kesalahan musuh-musuh dakwah?
Tentu pikiran yang jernih itu akan menghasilkan sebuah konklusi, bahwa sesungguhnya dirinya—banyak ataupun sedikit—telah menyumbangkan perannya dalam menjadikan banguanan dakwah tersebut acak-acakan.
Penyebabnya apa?
Pertanyaan inilah yang semestinya muncul kemudian. Bukan untuk sekedar mengetahui penyebabnya, tetapi lebih jauh dari itu, mereka harus berupaya mencarikan solusi terhadap penyebab yang menjadi sumber masalah itu.
***
Sahabat yang tulus, peratikanlah apa yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Hamid Al-Bilali dalam kitab beliau (Waahatu Al-Iman; sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Taujih Ruhiyah Pesan-Pesan Penjernih Hati) berikut ini, “saya percaya seyakin-yakinnya bahwa kader andalan untuk mengendalikan kejayaan umat adalah kader yang hatinya menyatu dengan akhirat, lalu mengerjakan seluruh aktivitas dunia, sembari melihat akhirat di sela-selanya. Kader yang menyucikan diri dan ruhiyah-nya serta menganggap jiwanya murah untuk dikorbankan di jalan Allah, kendati nyawanya harus melayang. Itu tidak menjadi masalah, selama itu membuat Allah ta’ala ridha padanya. Kader yang hanya bersandar kepada-Nya saat mengadapi gelombang fitnah. Kader yang tidak bergantung kepada selain Dia dalam menghadapi penguasa tiranik. Kader yang tidak bergantung kepada selain Dia dalam menghadapi dirinya sendiri, setan, dan hawa nafsunya.”
Kenikmatan di akhirat menjadi tujuan utama dalam setiap aktivitas mereka. Kalaupun ada pilihan yang nampak bersifat keduniaan, pasti hal itu hanya akan mereka gunakan sebagai sarana saja. Bukan sebagai tujuan utama.
Seluruh aktivitas yang mereka kerjakan hanya mereka persembahkan untuk Allah semata. Tidak untuk yang lain. Apalagi untuk manusia yang memiliki kekerdilan jiwa, fana, dan juga gudangnya alfa.
Mereka beraktivitas penuh dengan keluhuran dedikasi. Tidak untuk mencari pamrih, tidak untuk memburu pujian, dan tidak pula untuk mengupayakan sebuah popularitas. Ah, terlalu remeh jika hal itu menjadi kejaran utama dalam aktivitas meraka. Hanya satu yang menjadi tujuan utama mereka: keridhaan Allah terhadap mereka. Ya, seperti itulah, hanya ridha-Nya yang mereka kejar. Karena, dengan itulah mereka akan memperoleh kenikmatan abadi yang telah dijanjikan-Nya.
Seluruh amanah yang mereka emban, mereka tuntaskan dengan upaya yang paling optimal. Sampai selesai. Tidak ada sama sekali niatan untuk berhenti di tengah jalan karena sebuah alasan yang sifatnya lagi-lagi berhubungan dengan keduniaan. Takut anu, takut ini, dan takut itu. Takut kepada sesuatu yang belum pasti akan terjadi. Takut kepada sesuatu yang belum jelas bakalan berbuah sebuah realitas. Sahabat, bukankah berarti ketakutan-ketakutan itu sama dengan keraguan kita akan pertolongan Allah?!
Kenikmatan akhirat itu adalah sesuatu yang harganya sangat mahal. Tidak mungkin bakalan kita daptkan hanya dengan proses yang setengah-setengah.
Kita tengok saja realitas kehidupan di sekitar kita.
Tengoklah mereka yang sukses di masa tuanya. Lalu cobalah telisiki bagaimana kehidupan mereka di masa mudanya. Pasti kita akan dapati bahwa masa muda mereka sangatlah kental dengan berbagai ujian dan kesempitan. Dari sini kita bisa menarik sebuah pelajaran berharga, bahwa sesunggugnya ujian dan kesempitan itu akan berbuah banyak kenikmatan di masa yang akan datang. Ini baru hal yang masih bersifat kedunian. Seperti itu pulalah kenikmatan akhirat—yang sangat aku yakini keberadaanya—, tidak mungkin ianya bakal kita dapatkan hanya dengan usaha yang setengah-setengah.
Kesimpunan sederhanyanya jadi seperti ini: kesuksesan dunia saja harus kita kejar dengan upaya optimal, apalagi akhirat?!
Maka, alangkah indahnya.. jika dalam aktivitas yang kita katakan sebagai perjuangan ini, di dalamnya bersanding sebuah motivasi ukhrawi.
Maka, alangkah indahnya.. jika kenikmtanan akhirat senantia menjadi tujuan utama dalam tiap langkah perjuangan kita. Allaahu a’lam.
Oleh: E. Voice :)







0 komentar:
Posting Komentar